Archive for November 18th, 2012

Candi Merak, Monumen Untuk Ciwa

Sunday, November 18th, 2012

Candi merak merupakan salah satu candi yang berlatar belakang agama Hindu yang letaknya berada di desa Karangnongko, kecamatan Karangnongko, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini letaknya berada di tengah tengah pemukiman penduduk. Selain itu, tempatnya yang sangat jauh dengan jalur transportasi utama dan tidak dilewati oleh kendaraan umum menjadikan keberadaan tentang candi ini tidak banyak diketahui oleh umum. Hal ini cukup disayangkan, padahal candinya sudah dalam kondisi purna pugar dan tempat berdirinya dikelilingi halaman kebun penduduk yang asri.

 

Candi merak berlatar belakang agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya yoni, arca Durga Mahisasuramardini, arca Nandi, dan arca Ganesha. Yoni merupakan salah satu bagian yang dapat menentukan latar belakang agama candi itu sendiri. Dalam segi arkeologi, yoni merupakan objek yang menjadi pasangan dari lingga. Lingga merupakan simbol dari dewa Çiwa dan yoni menjadi simbol dewi Durga. Selain itu, lingga yoni juga menjadi simbol alat kelamin manusia, lingga menjadi simbol laki laki, dan yoni menjadi simbol perempuan.

 

Mengenai  kapan candi ini dibangun, masih menjadi sebuah misteri. Prasasti yang menjelaskan tentang candi merak juga belum ditemukan. Menurut Dumarcay, candi merak  diperkirakan dibangun hampir satu masa dengan pembangunan candi plaosan, sambisari, gebang, banyunibo, barong dan ijo, yaitu dibangun antara tahun 830-900 masehi. Sedangkan menurut M.J. Klokke memperkirakan kalau candi merak dibangun sebelum periode 830 masehi.

 

Candi merak ditemukan sekitar tahun 1925. yakni setika salah seorang warga sekitar yang sedang mencangkul hendak mengolah tanah tersebut, tiba-tiba cangkulnya membentur benda keras. Setelah ia selidiki, ternyata adalah batu candi. Kemudian ia melaporkan pada dinas yang berwajib.

 

Susunan keletakan candi merak berupa 1 candi induk, yang menghadap timur, dan didepannya terdapat 3 candi perwara yang menghadap ke barat, dan 1 bangunan kecil yang diduga sebagai gapura yang ada disebelah barat candi induk. Kondisi candi induk saat ini sudah cukup baik, sedangkan ketiga candi perwara saat itu masih berupa reruntuhan, dan kondisi gapura juga sudah cukup bagus.

 

Kita mengenal adanya 3 tingkatan dalam candi hindu yang dapat kita tentukan jika pandang secara horizontal, yakni bhurloka (kaki candi), bhuvarloka (badan candi), dan swarloka (atap candi). Ketiga tingkatan tersebut menggambarkan 3 tingkatan kehidupan manusia mulai dari kehidupan manusia di alam semesta, hingga kehidupan manusia di dunia kedewaan. Ketiga hal tersebut nampak jelas di candi merak, dan hampir semuanya dapat kita lihat, walaupun ratna dari candi tersebut masih belum ditemukan.

 

Candi merak berdenah bentuk bujursangkar dengan ukuran 8,38 x 13,5 meter. Sedangkan tangga untuk masuk ke dalam candi hanya ada pada satu sisi candi, yaitu di sebelah timur. Bagian kaki candi sendiri tidak banyak didapati relief-relief yang menghiasi bagian kaki candi. Selain hiasan berupa bunga kecil, sulur-suluran, dan hiasan mirip tiang penyangga, ada relief yang cukup jelas yang berada di pipi tangga kanan dan kiri candi. Relief tersebut sekarang masih dapat kita lihat walaupun tidak sempurna karena batunya telah aus. Relief tersebut menggambarkan seorang tokoh seperti seorang raksasa yang membawa sebuah gada berdiri di samping sebuah pohon yang mirip pohon kalpataru. Sosok orang tersebut “mirip” dengan gambaran tokoh Dwarapala yang bisa kita temui di candi plaosan dan candi sewu.Adapula hiasan berupa makara yang sangat jarang ditemui, karena makara yang ada di ujung tangga menggambarkan seekor ular yang dibawahnya terdapatkan hiasan burung kecil.

 

Pada bagian luar tubuh candi, di terdapat 3 relung besar yang menjadi tempat bagi pantheon dalam candi hindu. Ketiga relung tersebut masing masing berada di setiap sisi bangunan kecuali timur. Relung selatan ditempati oleh Agastya, namun sekarang arca Agastya tidak dapat kita temui karena arca tersebut tidak ditemukan. Relung barat ditempati oleh arca Ganesha. Dalam ajaran agama Hindu, Ganesha dikenal sebagai anak dari dewa Çiwa dan dewi Durga. Tampilan fisiknya tergambar seperti manusia yang berkepala gajah yang bertangan empat sedang duduk di atas padmasana. Kondisi sekarang arca tersebut sudah tak utuh lagi, hanya tersisa bagian kaki, badan, dan kepalanya saja. Sedangkan untuk relung utara dihuni oleh arca Durga Mahisasuramardini atau yang lebih dikenal sebagai dewi Durga yang menjadi istri dari dewa Çiwa. Arca tersebut digambarkan seorang wanita yang mempunyai banyak tangan yang berdiri diatas seekor lembu. Kondisi sekarang arca tersebut tidak utuh, karena kepalanya telah hilang. Dari ketiga relung tersebut, masing-masing di kanan kirinya terdapat relief seorang tokoh, yang saat ini sudah tak tergambar secara sempurna, karena batuannya telah aus.

 

Bagian depan candi diatas pintu masuk ke dalam bilik terdapat hiasan berupa kala yang tak bertaring yang dipadukan dalam bentuk sulur ikal tangga yang merupakan bentuk dari makaranya. Dibawahnya terdapat relief yang menggambarkan 2 orang yang dalam posisi duduk bersila dengan salah satu kakinya ditekuk ke atas di samping kanan kiri sebatang bunga. Dan diatasnya, masing masing terdapat hiasan yang nampak seperti burung berkepala manusia. Kemungkinan itu menggambarkan kinnara dan kinnari. Jika kita masuk ke dalam bilik, kita dapat menemui sebuah yoni yang kepalanya menghadap ke arah utara. Kepala yoni berhiaskan relief seekor ular, lembu, dan kura-kura di sisi kanan kirinya. Selain itu, juga didapatkan relung-relung yang ada di dinding sebelah dalam yang masing-masing sisinya ada 2 relung. Saat ini relung-relung tersebut dalam kondisi kosong. Kemungkinannya dulu relung-relung tersebut menjadi tempat arca.

 

Bagian teratas dari sebuah candi adalah atapnya. Atap candi merak terusun secata bertingkat tiga. Pada masing masing tingkat, terdapat relung-relung kecil yang bagian atasnya berhiaskan kala dan makara. Hal ini nampak sekali di relung tingkatan atap yang terbawah. Sedangkan di tingkatan tengah dan atas, hiasan kala tidak ada. Menurut Soekmono, relung-relung tersebut digunakan untuk meletakkan arca-arca dari dewa nawadewata yang merupakan dewa penguasa segala penjuru mata angin. Selain itu pada tingkatan tengah dan teratas terdapatkan hiasan berupa ratna kecil. Hal yang tidak kita temui adalah ratna yang menjadi kemuncak sebuah candi.