Archive for January 21st, 2012

Candi Barong, Pemujaan Dewa Wisnu dan Dewi Sri di Bukit Kapur

Saturday, January 21st, 2012

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta secara administratif  berada di bagian selatan pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Sesuai catatan sejarah, wilayah Yogyakarta dulu merupakan daerah kekuasaan kerajaan mataram yang pernah menguasai pulau Jawa. Banyak berbagai tinggalan ditemukan di sekitar Yogyakarta, terutama di daerah yang dulunya pernah dianggap sebagai “Siwa Plato”. Sebutan siwa plato muncul setelah banyak ditemukannya berbagai tinggalan arkeologis yang menjadi tempat pemujaan dewa Siwa (agama Hindu) seperti candi ijo, candi miri, dan situs arca gupolo. Namun seiring berjalannya waktu, banyak ditemukan pula berbagai tinggalan arkeologis yang berlatar belakang agama Budha, semisal candi banyunibo, candi sojiwan, dan candi tinjon. Bahkan ada beberapa tempat di Siwa plato dimana candi agama Hindu letaknya berdekatan dengan candi agama Budha, seperti di candi barong yang berdekatan dengan situs sumberwatu yang diduga tinggalan arkeologis beraliran agama Budha.

Candi barong merupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram yang berlatar agama Hindu. Secara administratif candi barong terletak di dusun Candisari, desa Sambirejo, kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Para arkeolog memperkirakan bangunan ini dibangun pada abad ke IX-X Masehi. Hal ini masih diragukan karena belum ditemukannya bukti otentik mengenai bangunan ini. Candi ini berdiri di tanah yang cenderung tandus, karena daerahnya yang berbatu. Hal ini agak berbeda dengan ketentuan pembangunan candi yg tercantum dalam kitab manasara silpasastra, silpa prakasa, dan tantra samuccaya, dimana sebuah candi itu dibangun di area yang dekat dengan sumber air. Sedangkan daerah di candi barong tanahnya kurang subur karena tanahnya berbatu dan jauh dari sumber air.

Komplek candi barong terdiri atas 3 lapis teras. Teras 1 berada di bagian paling belakang yang diatasnya terdapat 2 bangunan candi dan sebuah paduraksa. Teras 2 berada di bawah teras 1. Di teras 2 kita dapat menemukan umpak batu yang diperkirakan merupakan bekas dari bangunan beratap kayu. Mungkin itu tempat tinggal pendeta ataupun tempat untuk menaruh atribut-atribut upacara. Sedangkan di teras 3 tidak ditemukan tinggalan arkeologis.

Jika mengamati sekilas kedua candi tersebut, kita tidak dapat menemukan bilik dari candi, namun sebenarnya bagian tengah candi berongga. Kedua candi hanya memiliki relung di setiap sisinya. Di atas relung terdapat hiasan kala yang bentuknya sangat berbeda dengan hiasan kala yang ada di candi-candi di Jawa Tengah yang nampak garang. Hiasan kala di candi barong nampak seperti barong yang nampak tersenyum. Itulah sebab candi ini dinamakan candi barong. Hiasan kala berbentuk barong biasanya terdapat di candi-candi Jawa Timur dan bali. Secara filosofi, hiasan kala dimaksudkan sebagai penolak bala atau petaka. Karena hiasan kala di candi barong seperti kala yang ada di candi-candi Jawa Timur, bangunan ini pun dianggap dibangun pada masa peralihan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Seperti halnya candi pada umumnya, candi barong juga tersusun dari 3 bagian, yakni kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Hal ini merupakan simbol dari lingkungan alam semesta. Bagian kaki candi melambangkan lingkungan makhluk hidup di dunia (bhurloka). Bagian tubuh candi melambangkan lingkungan hidup makhluk yang sudah disucikan (bhuvarloka), sedangkan bagian atas merupakan lingkungan para dewa (svarloka)

Jika kita mengamati di masing-masing relung, di bawah relung terdapat ornamen Ghana. Ghana itu sendiri merupakan gambaran dari raksasa kerdil yang tergambar sedang menopang relung candi. Selain itu kita juga dapat melihat ornamen sankha bersayap yang merupakan gambaran dari dewa Wisnu. Ornamen-ornamen lain yang tergambar di candi tersebut berupa hiasan sulur. Biasanya relung yang terdapat pada candi difungsikan untuk menaruh arca, namun kondisi sekarang relung dibiarkan kosong. Hal ini karena dulu waktu penemuan candi tersebut, arca-arca yang ada ditemukan terlepas dari tempatnya.

Di candi ini pula, pernah ditemukan berbagai tinggalan arkeologis seperti, 2 arca dewa Wisnu, 2 arca dewi Sri, 1 arca Ganesha, 3 arca yang belum terselesaikan (unfinish), mangkok keramik, dan mata kapak. Jika kita mengkaitkan temuan berupa arca Dewa Wisnu dan arca Dewi Sri dengan kondisi alam sekitar candi barong yang cenderung tandus, muncul sebuah spekulasi tentang korelasi dari kedua hal tersebut. Yakni munculnya sebuah spekulasi tentang fungsi dari pembangunan candi barong, yaitu untuk memuja dewa Wisnu dan dewi Sri untuk meminta kesuburan tanah dan kesejahteraan untuk rakyat sekitar.